<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8089823152268945787</id><updated>2011-07-07T18:21:40.544-07:00</updated><title type='text'>biografi sebuah ingatan</title><subtitle type='html'>sejak beberapa tahun lalu, kampung tempatku lahir sudah ditinggalkan oleh keluargaku. kampiri, kampung bersahaja itu, kini tetap ada dalam ingatanku. ruang ini sengaja saya buat buat untuk mencatat kenangan-kenangan kecil saya di kampung itu. saya memang sedang menyusun sebuah biografi. saya ingin membuat biografi kampiri---biografi yang saya rangkai dari serpih-serpih ingatan saya.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kampiri.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8089823152268945787/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kampiri.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>m aan mansyur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855402410364863416</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v289/psychopoet/mansyur.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8089823152268945787.post-4186973205035147081</id><published>2007-04-02T12:58:00.000-07:00</published><updated>2007-04-07T12:38:50.848-07:00</updated><title type='text'>Dari Parakang Sampai Utti Kaddu</title><content type='html'>TAHUN 1931, dalam sebuah buku tipisnya yang berjudul The World as I See It, Albert Einstein mengatakan: The most beautiful experience we can have is the mysterious. It is the fundamental emotion that stands at the cradle of true art and true science. Mungkin benar apa kata ilmuwan bermisai dan berambut khas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, seorang kawan bermain masa kecil saya di kampung datang dan mengajakku berbincang lama tentang kampung Kampiri. Hal paling banyak kami perbincangkan adalah misteri: tahayul, pamali dan hal mistik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua tahun lebih saya tak pernah pulang kampung. Sejak 1997, tak cukup selusin kali saya bertandang ke sana. Jika pun pulang, paling lama sepekan. Kota telah merampas saya dari rengkuhan kampung kelahiranku. Dua tahun lalu, ibuku memutuskan menjual rumah dan pindah ke Balikpapan mengikuti dua adikku yang lebih dulu menetap di sana. Artinya peluang saya untuk pulang kampung semakin berkurang banyak. Kampiri (awalnya bernama Amessangeng yang berarti ‘sesama keluarga’), kampung kecil tempat kelahiran saya terletak di desa bernama Biru, sebuah desa dengan hamparan sawah yang dihidupi aliran air Bendungan Sanrego. Desa Biru adalah satu dari belasan desa yang ada di Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal unik dan menarik yang selalu saya kenang dari kampung kelahiranku, salah satunya adalah bahasa Bugisnya yang mungkin agak berbeda dengan bahasa Bugis lain yang dikenal orang. Seringkali orang menganggap bahwa jika seseorang berasal dari Bone, maka logat dan kosa-kata bahasanya semua sama. Nyatanya tidak. Hal itu saya tahu karena pernah tinggal selama hampir tiga tahun di Watampone. Bahasa Bugis yang saya bawa dari kampung menjadi tertawaan banyak orang di kota waktu itu. Kampung saya jauh lebih dekat dari Sinjai daripada Watampone sehingga bahasa Bugis saya lebih dekat ke bahasa Bugis Sinjai. Sengaja saya ungkap hal ini di awal tulisan karena banyak kosa-kata yang akan disebutkan dalam tulisan ini yang mungkin sedikit asing bagi pembaca.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari akan semakin jauh dari kampung, akhir-akhir ini saya sering menuliskan bermacam-macam hal tentang kampung itu. Kali ini saya akan berbicara tentang ‘dunia gelap’ yang selalu menjadi misteri bagi saya sejak lama. Orang-orang Kampiri kuat memeluk banyak kepercayaan tradisional seperti mitos, pamali, tahayul atau hal-hal semacam itu. Di sisi lain, mereka juga sangat kuat memeluk kepercayaan agama Islam. Kebanyakan sarjana yang ada di kampung itu menyelesaikan kuliahnya di Universitas Islam seperti IAIN Alauddin Makassar (sekarang UIN Alauddin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJAK kecil saya sudah akrab dengan nama aneka jenis mahluk halus yang dipercayai orang di Kampiri. Pula saya akrab dengan dunia-dunia mistik lain yang seringkali menjadi perbincangan orang-orang tua di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan rakyat atau sering disebut tahayul adalah hal yang bagi orang berpendidikan dianggap sederhana bahkan pandir, kolot, ketinggalan jaman, tidak beralaskan logika, secara ilmiah tak bisa dipertanggungjawabkan, dan seterusnya. Dalam bahasa Arab, kata ‘takhayul’ memang berarti ‘hanya hayalan belaka’—sesuatu yang hanya ada di angan-angan, yang sesungguhnya tidak ada. Tahayul berpadanan dengan kata ‘supertition’ dalam bahasa Inggris. Istilah ini berasal dari bahasa Latin, ‘superstitio’, punya makna tak jauh berlainan: terlalu takut kepada dewa-dewa—yang mahluk-mahluk gaib juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh para ahli folklore modern, penggunaan kata ‘tahayul’ untuk mewakilkan hal-hal yang berada di luar jangkauan akal dianggap mengandung makna merendahkan sehingga mereka lebih senang menggunakan istilah ‘kepercayaan rakyat’ atau folk belief. Meskipun orang punya pandangan merendahkan, anehnya, hampir tak ada orang, bagaimanapun modernnya, sungguh-sungguh lepas dari tahayul atau apapun penyebutannya. Kota yang dianggap mewakili wilayah modernitas juga tak pernah bisa betul-betul bersih dari tahayul. Media-media bahkan menjadikan tahayul dan kawan-kawannya sebagai pipa-pipa besar tempat mengalirnya uang milyaran rupiah. Itu adalah sedikit bukti nyata bahwa tahayul tak pernah berhenti gentayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu klasifikasi tahayul yang pernah dibuat oleh seorang bernama Wayland D. Hand, redaktur bab Superstitious dari buku The Brown Collection of North Carolina Folklore Jilid VI dan VI 1. Saya menemukannya di salah satu halaman Majalah Tempo yang terbit 16 Maret 1985. Ia membagi tahayul ke dalam empat golongan besar: tahayul di sekitar lingkungan hidup manusia, tahayul mengenai alam gaib, tahayul mengenai terciptanya alam semesta dan dunia, dan tahayul lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh tahayul di sekitar lingkaran kehidupan tampak nyata dalam peristiwa sehari-hari di kampung saya, mulai dari kelahiran (bahkan sebelumnya) sampai kematian. Seorang perempuan hamil sangat dianjurkan membicarakan, mendengar dan melihat hal yang bagus-bagus, jika sebaliknya dipercaya anaknya akan lahir jelek. Perempuan hamil yang selalu melihat orang cacat dipercaya akan melahirkan anak yang cacat pula. Sewaktu melahirkan, ari-ari bayi ditanam di bawah pohon kelapa agar kelak tumbuh seperti pohon kelapa: tinggi dan berguna—mengingatkan saya pada lambang Pramuka, organisasi yang pernah dimasuki nyaris semua orang seusia saya. Ari-ari bahkan dipercaya sebagai saudara kembar bayi. Sering pula dijumpai pinggang anak-anak kecil di kampung saya berkalung sebuah bantal seukuran jempol tangan diikat benang hitam. Dalam bantal kecil itu biasanya disimpan sedikit potongan ari-ari anak bersangkutan. Saya termasuk salah satu orang yang pernah mengenakan kalung serupa itu di pinggang. Kalung itu, kata nenekku, bisa melindungi saya dari bermacam-macam bala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kecil saya juga tak sepenuhnya bebas bermain karena banyak larangan ini dan itu yang harus saya patuhi. Misalnya, keluar saat mangngaribi (magrib) atau bermain-main saat turun bosi tomate (hujan orang mati) sangat berbahaya. Keduanya dipercaya sebagai waktu mahluk-mahluk halus menyebar penyakit dan tulah. Itulah mengapa disebut bosi tomate, arwah-arwah orang mati itu menyebar penyakit saat turun hujan seperti itu. Selain itu, mangngaribi dipercaya pula sebagai waktu bergentayangannya longga, mahluk halus yang tinggi sekali (longga berarti tinggi) dan Asu Panting. Kedua mahluk halus ini sangat berbahaya menurut kepercayaan orang di kampung saya. Orang yang pernah melihatnya atau berpapasan meskipun tak melihatnya akan terkena sakit keras dan bahkan meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang sakit, di kampung saya bahkan banyak penyakit yang dipercaya disebabkan oleh mahluk halus. Beberapa contoh yang masih saya ingat adalah; dahu-dahureng atau dawu-dawukeng dalam bahasa Bugis Bone yang umum dikenal, pemyakit ini ciri-cirinya adalah di dada dan di punggung ada luka, seolah-olah bekas tombak yang menembus tubuh. Maddahu atau maddawu berarti menombak. (Perhatikan salah satu perbedaan penting dalam kosa-kata Bugis itu, di kampung kami bunyi ‘w’ menjadi ‘h’ seperti bahasa Bugis Sinjai.) Hampir serupa dengan penyakit itu, ada juga penyakit yang dikenal sebagai tado-tadoreng, di leher terlihat seperti bekas kena jerat, dan sarippeseng, di punggung ada luka yang perih seperti bekas orang disarippe (dipukul—dengan tali atau rotan). Untuk menyembuhkan penyakit itu juga kadang menggunakan hal yang nampak sama sekali tak masuk akal. Salah satu sepupu saya pernah menderita sarippeseng dan diobati dengan tahi cacing tanah yang masih basah (tanah serupa bukit kecil tempat cacing tanah menggali lubang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di sebuah rumah terdapat seorang yang sakit, pemilik rumah harus ‘memagari’ rumahnya dengan baca-baca (mantera) khusus sambil biasanya menyiram dengan air garam di sekeliling rumah. Hal ini dilakukan agar terhindar dari parakang yang memiliki ‘indera penciuman’ sangat tajam untuk mendeteksi tempat orang sakit berada. Parakang adalah satu jenis hantu atau mahluk halus di Bugis yang sangat ditakuti. Parakang bisa mengubah diri menjadi bermacam-macam wujud: pohon pisang, kambing, tangkai-tangkai bambu atau ampoti (keranjang dari daun kelapa tempat bertelur ayam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu nenekku pernah cerita pada saya bahwa parakang mengisap pello (rektum) orang sakit. Parakang melihat orang sakit seperti sebiji nangka atau buah-buahan lain yang matang sempurna dan menggiurkan untuk dicicipi. Seorang tetangga saya dulu oleh orang-orang kampung dianggap sebagai parakang. Beberapa anak muda menghaluskan pecahan beling dan menaburkannya di pelimbahan orang itu. Konon, dengan begitu, parakang akan tersiksa dan akhirnya pindah. Orang yang diduga parakang itu memang pindah kampung mengikuti suami keduanya. Saya tak tahu persis apakah itu berhubungan dengan bubuk beling di pelimbahannya atau tidak. Selain pecahan beling, konon melepaskan belut di pelimbahan juga ampuh menyiksa parakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DE JAVAANSCHE Geesten Wereld en de Betrekking die tuschen de Geesten en de Zinnelijk Wereld bestaat verduidelijk door Petangan's of telling en bij de Javanen in Gebruik. Kalimat dari bahasa Belanda itu sesungguhnya adalah sebuah judul buku yang terbit pada tahun 1896, ditulis oleh H.A. van Hien. Dalam bahasa Indonesia judul buku yang terlalu panjang itu berarti: alam roh orang Jawa dan hubungan yang ada di antara dunia roh dan dunia fisik, dijelaskan melalui petangan atau ramalan. Dalam buku tiga jilid itu dilukiskan berbagai macam roh dan hantu menurut kepercayaan orang Jawa, praktek-praktek ilmu gaib, ramalan dan pertanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak pernah membaca buku itu, tetapi untuk menebusnya saya ingin menjelaskan pembagian mahluk-mahluk gaib di Jawa Tengah menurut sebuah buku nyaris serupa yang ditulis oleh antropolog terkenal, Clifford Geertz. Judul buku itu adalah The Religion of Java. Menurut Geertz, ada lima golongan besar mahluk gaib yang dipercaya oleh orang Jawa Tengah, yakni: memedi (mahluk yang menakutkan), lelembut (yang dapat memasuki tubuh manusia), tuyul (yang dapat diperbudak), demit (mahluk gaib setempat) dan danyang (penjaga keselamatan seseorang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tergolong dalam dedemi antara lain; jerangkong (kerangka manusia), wedhon (jenazah berbalut kafan), banaspati (hantu yang berjalan dengan kedua tangan sambil mulutnya menyemburkan api dan kepalanya terletak pada tempat alat kelamin), jim atau jin (hantu beragama Islam), pisacis (hantu anak yang sewaktu meninggal tidak mempunyai orang tua, sehingga mencari manusia yang sudah berumah tangga untuk menumpang), uwil (hantu bekas laskar Bugis), kunchung (hantu tanpa rambut), sundel bolong (wanita cantik yang berlubang punggungnya), dan genderuwo (hantu yang bisa mengubah diri menjadi orang yang kita kenal, misalnya seorang perempuan melihatnya sebagai suaminya dan tidur bersamanya lalu melahirkan seorang bayi yang menyeramkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar hantu itu dikenal luas oleh orang Indonesia atas jasa film-film Eva Arnaz di tahun 1980-an, sinetron-sinetron di tivi sampai sekarang, atau film-film horror yang marak diproduksi saat ini. Selalu seperti itu, sesuatu yang berbau Jawa memang lebih cepat dikenal luas sampai di desa-desa termasuk di desa saya—bahkan waktu di sana baru Petta Desa yang memilki televisi. Di kampung saya, meski sepengetahuan saya belum ada antropolog yang pernah membuat klasifikasi jenis mahluk halusnya, juga terdapat berbagai jenis mahluk halus. Tentu saja penamaan dan ciri-ciri hantu di kampung saya sangat berbeda dengan yang dijelaskan Geertz dalam bukunya. Sebelumnya saya sudah menyebut parakang, beberapa mahluk halus lainnya adalah; poppo, tampakoro dan cambeu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poppo menurut kepercayaan orang di kampung saya adalah hantu perempuan yang bisa terbang. Ada sebuah kisah tentang poppo yang konon pernah terjadi di kampung saya. Suatu hari, Puang Imang bersama semua keluarganya meninggalkan rumahnya karena seorang keluarganya mengadakan pesta pernikahan di daerah lain. Malam harinya, rumah Puang Imang dimasuki oleh poppo yang, sekali lagi, konon ingin mencuri. Setelah barang-barang yang mau dibawa pergi telah dibungkus dengan sarung, poppo itu tak bisa keluar dari rumah Puang Imang. Katanya, menurut pengakuan poppo itu, ia melihat dirinya dikepung air—seperti laut yang tak memiliki pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Puang Imang kembali, ia menemukan poppo telah berubah wujud menjadi seorang perempuan cantik berambut panjang telanjang berdiri di ruang tengah rumahnya. Ternyata rumah Puang Imang, sebelum ditinggalkan, telah disappo (dipagari) dengan baca-baca (mantera) sehingga poppo itu tak bisa keluar. Poppo itu kemudian diberi sehelai pakaian oleh istri Puang Imang dan dibiarkan pergi. Namun sebelumnya untuk membuat perempuan itu jera, rambut panjangnya dipotong nyaris habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poppo menurut kepercayaan orang Kampiri selain dikenal sebagai hantu pencuri juga suka mengisap darah, utamanya perempuan yang sedang melahirkan. Poppo dipercaya juga suka berada di kebun jagung atau kebun di mana banyak buah-buahan. Kesukaan poppo berada di pohon yang berbuah itu kadang digunakan oleh orang (yang berani) di musim mangga berbuah. Poppo yang ‘hinggap’ di cabang pohon mangga akan menjatuhkan buah-buah mangga matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang parakang, selain suka mengisap anus orang sakit ada beberapa hal menarik lainnya. Jika seorang parakang sedang sekarat menghadapi sakratul maut, ia akan tarus mengulang-ulang kata (l)emba (pindah) sampai ada seorang dari keluarganya yang mengiyakannya. Setelah itu, orang yang mengiyakan itu akan menjadi parakang selanjutnya. Jika menemukan parakang, misalnya dengan wujud pohon pisang, orang dianjurkan untuk memukulnya sekali atau tiga kali saja. Jika sekali pukul dipercaya akan membunuhnya dan tiga kali akan membuatnya cacat. Itulah mengapa perempuan tetangga saya yang pindah itu dianggap parakang karena berjalan seperti orang dengan lutut kesakitan. Menurut orang-orang, suatu malam, perempuan itu tertangkap basah berwujud kambing dan dipukul dengan potongan kayu dilututnya sebanyak tiga kali. Sejak saat itulah ia berjalan dengan cara yang aneh. Dua hantu itu, parakang dan poppo adalah hantu paling populer di kampung kami. Saking populernya sewaktu saya masih anak-anak Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau P4 kami plesetkan menjadi poppo, parakang pakkanre pello (poppo, parakang pemakan rektum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain poppo dan parakang lain pula tampakoro. Mahluk halus yang satu ini tak suka mengganggu orang sakit. Spesialisasinya adalah mengambil sumange ase (spirit padi). Meskipun tak mengganggu orang secara langsung, tampakoro juga sangat ditakuti orang di kampung saya. Hantu ini memang tak sepopuler parakang dan poppo. Seperti jenis hantu lainnya, tampakoro juga beroperasi di malam hari. Wujud tampakoro adalah perempuan yang membawa dapo (tungku tanah liat) yang menyala di kepalanya. Ia berjalan dari satu sawah ke sawah lain (sawah milik orang lain) dan mengambil sumangenna (spiritnya) kemudian membawanya ke sawah milik tuannya. Tampakoro mungkin hampir sama dengan tuyul di Jawa: sama-sama suruhan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa hampir semua hantu-hantu jahat di kampung saya adalah perempuan. Saya tak pernah tahu mengapa bisa demikian. Sebelum nenekku yang suka mendongeng meninggal, saya lupa bertanya mengapa hantu-hantu itu perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain beberapa yang telah saya ceritakan, ada juga satu jenis mahluk halus unik lainnya; cambeu namanya (dalam bahasa Bugis lainnya saya pernah dengar disebut ciwiui). Mahluk halus ini adalah penjelmaan seorang bayi yang meninggal sewaktu lahir dan tidak dikenal siapa ayahnya. Dalam perwujudannya sebagai hantu, cambeu konon bulat menggelinding seperti bila (buah maja) dengan tali pusar yang masih melekat. Menurut kepercayaan orang, cambeu ini menggelinding mencari ayahnya. Bunyinya seperti seorang bayi yang memanggil ayahnya. Dalam bahasa Bugis, kata ambe atau ambo berarti ayah. Hal menarik lain dari hantu jenis ini adalah mereka takut pada cawile (sembilu), konon mereka takut tali pusarnya dipotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dianggap hidup di dunia yang berbeda dengan manusia, maka untuk berinteraksi dengan hantu kadang-kadang dilakukan dengan cara-cara yang tidak biasa. Misalnya, dipercaya jika ingin melihat parakang atau poppo maka saat turun tangga rumah dianjurkan jalan mundur dan melihat melalui bawah selangkangan. Atau dipercaya juga bahwa jika mendengar bunyi poppo atau cambeu itu nyaring berarti mahluk-mahluk halus itu jauh dari tempat Anda berada, begitu juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPERTI yang disebutkan Geertz bahwa golongan kedua mahluk halus di Jawa Tengah adalah lelembut, di kampung saya juga sebenarnya dipercaya ada mahluk serupa tetapi saya tak tahu namanya—mungkin juga tak diberi nama. Mahluk gaib yang termasuk dalam golongan lelembut dalam kepercayaan orang Jawa adalah hantu yang suka merasuki orang sehingga membuatnya sakit, gila, atau meninggal. Di tempat lahir saya juga dipercayai hal-hal seperti itu, bahwa orang yang kesurupan dimasuki roh mahluk halus—biasanya melalui ubun-ubun atau jari kaki. Itulah mengapa jika ada orang yang kesurupan orang menolongnya dengan memijit jari kakinya atau membacakan baca-baca dan meniupkannya di ubun-ubun orang kesurupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kesurupan, jika seorang anak kecil tiba-tiba berubah nakal atau bertingkah aneh juga sering dipercaya orang di kampung saya sebagai kemasukan roh jahat. Jika terjadi hal seperti itu, anak bersangkutan dibawa oleh orangtuanya ke orang pintar, biasanya ustaz atau sanro (dukun) untuk disembuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memasuki tubuh orang, ada juga ‘kelakukan’ lain mahluk halus golongan ini, yakni menyembunyikan orang, biasanya anak-anak. Anak-anak akan diubah menjadi sangat kecil sehingga saking kecilnya anak tersebut bisa disembunyikan di sela-sela rumput. Jika ada anak yang mengalami hal seperti ini, di kampung saya orang menyebutnya nasobbu setang (disembunyikan oleh setan). Sewaktu SD, ada dua anak di sekolah saya yang katanya pernah nasobbu setang, keduanya kini sudah menikah dan memiliki anak. Orang percaya bahwa anak yang pernah nasobbu setang akan menjadi bodoh. Dua anak teman SD saya waktu itu memang bodoh, sampai kelas empat belum bisa membaca. Apakah ada hubungannya dengan kepercayaan itu atau karena hal lain, entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga satu peristiwa aneh lain yang konon dulu sering terjadi di kampung saya: mate mallinrung (mati suri). Seorang perempuan gila bernama Calle dipercaya sebelum mengalami mate mallinrung tidaklah gila, normal saja seperti anak-anak lain waktu itu. Tetapi Calle yang suatu sakit hari panas dingin tiba-tiba meninggal. Seperti layaknya jenazah lain, jenazah Calle juga diperlakukan normal; dimandikan dua kali dan dikafani. Tetapi saat akan dimasukkan ke dalam keranda, Calle tiba-tiba bangun meminta segelas air minum kepada ibunya. Para pelayat kaget tetapi ibu-bapaknya bahagia—meskipun kebahagiaan orang tua Calle tak bertahan lama sebab sejak hari itu Calle jadi gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tempat di kampung kami dianggap angker dan memiliki penunggu. Hal seperti ini memang sudah biasa kita dengar. Cerita-cerita penunggu sebuah tempat seperti ini sering menjadi inspirasi para pembuat film. Sebut saja beberapa film; Si Manis Jembatan Ancol, Hantu Jeruk Purut, Terowongan Casablanca, dan lain-lain. Di kampung saya ada sebuah tempat yang sesungguhnya tidak disebut angker. Orang lebih takut melintasi kawasan pemakaman dari pada tempat di mana semak-semak tumbuh merimbun itu. Orang-orang hanya harus berhati-hati melintas di tempat itu karena sering gatal-gatal setelah melewatinya. Konon di tempat itu dulu banyak orang yang mati dibunuh pada tempo gurilla (zaman pemberontakan Kahar Mudzakkar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentol-bentol yang gatal itu dipercaya hanya bisa disembuhkan oleh badik yang juga pernah dipakai membunuh. Bilah badik itu direndam di sebuah wadah lalu airnya dipakai membasuh bagian tubuh yang gatal-gatal itu. Di kampung kami gatal-gatal itu dikenal dengan sebutan batu kalapaneng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal penyakit, ada sesuatu yang lebih menarik lagi dari masa kecil saya: penyakit bisul. Nenek saya selalu berpesan kepada cucunya agar tidak memungut atau menyentuh uang recahan jika menemukannya di jalan. Sebab menurut kepercayaan nenekku, uang recehan itu bisa saja sengaja dibuang oleh seorang yang punya sakit bisul. Siapa yang memungut uang recehan itu akan tertular bisul. Mengingatnya lagi saya pikir lucu jga ha itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal sembuh-menyembuhkan, di kampung saya juga banyak hal-hal unik. Beberapa contoh yang saya ingat adalah, jika ada orang naadde’ kabuttu bale (tersedat tulang ikan), hal itu mudah disembuh dengan elusan tangan seseorang yang sewaktu masih berada di kandungan ibu, ayahnya meninggal. Kalau saya mendapatkan masalah seperti itu, seorang gadis bernama Nia yang jadi langganan saya. Ayahnya meninggal saat kandungan ibunya masih muda. Lainnya, jika ada dua orang bersaudara suka berkelahi. Kelakuan buruk suka berkelahi ini, menurut kepercayaan orang-orang tua di kampung saya bisa disembuhkan dengan selalu memberikan utti kaddu (pisang kembar/dempet). Di sisi lain, ibu hamil justru dilarang makan utti kaddu. Jika seorang ibu hamil memakan utti kaddu, kelak akan susah bersalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAIN mahluk halus, di kampung kami juga banyak folk belief yang berhubungan dengan ilmu-ilmu, guna-guna atau kepandaian tertentu yang dimiliki oleh seseorang. Misalnya, perempuan utamanya gadis jangan terlalu kasar jika menolak ungkapan cinta atau lamaran seorang lelaki. Sebab lelaki yang kecewa ditolak cintanya bisa masiri (malu merasa dilecehkan) dan mengirimkan guna-guna atau doti. Kepandaian orang tertentu mengirimkan doti bisa berefek sangat buruk kepada pihak perempuan: sakit keras, meninggal atau melakukan hal-hal memalukan lain, misalnya mengemis-ngemis minta dinikahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih persoalan hubungan cinta juga, beberapa orang percaya ada orang yang memiliki kemampuan tertentu hanya dengan menghembuskan asap rokoknya ke gadis yang ditaksirnya, gadis tersebut akan langsung balas jatuh cinta. Bisa juga dengan memberi perlakuan khusus kepada rambut, minuman, celana dalam, atau foto sang gadis agar gadis tersebut jatuh cinta. Nenekku selalu berpesan kepada sepupu perempuanku agar tidak sembarang memberikan fotonya kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ‘ilmu hitam’ seperti doti, ada juga beberapa kepandaian lain: cenning rara dan paggagara. Dengan mantra dan perlakuan tertentu, cenning rara dipercaya bisa membuat seseorang tampil lebih cantik atau lebih tampan. Lain lagi dengan paggagara; jika ingin melakukan pembicaraan menentukan, tawar-menawar atau beradu mulut, maka dengan mantera paggagara lawan akan kalah dalam adu mulut atau tawar-menawar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak hal lain yang nampak melanggar logika di kampung saya. Ada beberapa pamali yang sering saya dengar. Dilarang duduk di depan pintu, menurut kepercayaan orang, duduk di depan pintu akan menghalangi masuknya rezeki. Masih berhubungan dengan rezeki, saya tak pernah melihat ibu saya masserring (menyapu) di malam hari karena ia percaya bahwa menyapu malam hari akan menghilangkan rezeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tentang pamali yang berhubungan dengan menyapu, saya punya sebuah cerita tentang salah seorang tante saya, namanya Tante Mariam. Sebelum akhirnya menemukan jodohnya setelah menopause dengan seorang duda yang ditinggal mati istrinya, Tante Mariam pernah dilamar seorang tentara. Waktu itu Tante Mariam baru saja resmi jadi guru di sebuah sekolah dasar di Sinjai. Saat pihak lelaki yang ingin melamar itu masuk ke rumah, Tante Mariam sedang menyapu. Konon karena menyapu itulah sehingga Tante Mariam gagal dinikahi tentara yang melamarnya. Menyapu pada saat ada tamu apalagi orang yang mau melamar itu dipercaya bahwa orang yang menyapu itu tidak baik untuk dijadikan seorang istri, sial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan beruntung atau sialnya seorang perempuan juga, konon, ditentukan oleh letak tanra (tahi lalat) dan baba (tanda lahir) perempuan itu. Seorang bidan, ini cerita yang pernah saya dengar, dianggap sial karena dua suami yang pernah ia miliki semuanya meninggal karena memiliki tahi lalat di tengkuknya. Lain dengan Bu Bidan, lain pula Bu Hasbiah. Menurut cerita yang pernah saya dengar, Bu Hasbiah adalah salah seorang perempuan di jamannya yang dinikahi dengan mahar termahal karena ada baba di buah dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pamali lebih banyak mengandung larangan, maka ada juga beberapa anjuran di kampung kami—saya tidak tahu apa istilahnya. Contohnya, jika seseorang mau merantau saat berjalan meninggalkan rumah sangat dianjurkan untuk menoleh melihat coppo bola (gada-gada rumah) yang dimaksudkan agar kelak di rantauan ia tetap mengingat untuk pulang. Mungkin bapak saya tidak menoleh waktu mau berangkat dulu sebab sejak meninggalkan rumah tahun 1986, ia tak pernah pulang dan mengirim kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih persoalan merantau, saya ingat waktu ayah saya pergi, di sejumput kecil rambut adik bungsu saya yang waktu itu belum berusia setahun dilengketkan getah sarang lebah. Kata nenek saya, agar adik saya tidak selalu menangis jika mengingat bapakku. Sebab jika adikku sering menangis, itu juga bisa mempengaruhi pekerjaan bapak saya di sana. Saya tidak tahu apakah getah sarang lebah itu betul-betul mujarab sebab sampai sekarang adik bungsu saya tak pernah menangis karena ditinggal bapak saya—berbeda dengan adik saya yang satunya. Adakah hubungannya sebab di rambut adik saya yang suka menangis itu tak ada getah sarang lebah waktu itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPERTI yang dijelaskan di awal bahwa menurut Hand, salah satu kategori tahayul adalah mengenai terciptanya alam semesta dan dunia. Kategori ini menurut Hand masih dibagi ke dalam beberapa sub-kategori, di antaranya: fenomena kosmis dan cuaca; binatang; tanaman dan pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menggunakan pembagian sub-kategori Hand itu, maka di kampung saya pun ada beberapa tahayul yang mewakili masing-masing sub-kategori itu. Pertama, fenomena kosmis dan cuaca. Di kampung saya orang percaya bahwa jika di siang hari matahari memiliki cincin, matteddungi matanna essoe (matahari berpayung) maka dipercaya akan ada ‘orang besar’ yang akan meninggal. Jika ada pelangi, sewaktu masih kecil kami di larang menunjuknya dengan telunjuk karena tangan kami bisa pokko (buntung). Pelangi juga dipercaya sebagai jembatan atau tangga tempat turunnya bidadari untuk mandi di sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tahayul yang berhubungan dengan binatang. Untuk sub-kategori ini banyak sekali yang dipercaya di kampung saya. Sebagian orang di kampung saya percaya bahwa di rumpun bambu atau di lubang tertentu (misalnya sumur tua) memiliki pangngonroang (penunggu) yakni seekor ular potte (ular yang terpotong ekornya). Ular seperti ini dianggap jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan ular jenis apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binatang yang paling banyak hubungannya dengan tahayul adalah meong (kucing). Orang-orang percaya bahwa jika ada kucing jantan yang memiliki bulu tiga warna, suatu waktu (konon malam Jumat) kucing itu akan bertanduk. Tanduk kucing ini bisa mengobati berbagai macam penyakit. Makanya orang-orang percaya bahwa jika ada kucing seperti itu lahir maka induknya akan langsung memakannya. Selain tanduknya, meong juga menurut kepercayaan sebagian orang di kampungku tak boleh dimandikan. Jika ada kucing yang dimandikan bisa menyebabkan turun hujan lebat. Membuang kucing juga akan mendatangkan kesialan utamanya bagi para petani. Meong diperaya sebagai sahabat baik Dewi Padi. Tahayul tentang orang yang menabrak kucing di jalan akan mengalami kesialan di perjalanan jika tidak menguburkan bangkai kucing itu dengan layak. Mungkin kepercayaan ada karena kuatnya pengaruh cerita Meong Palo Karellae. Ini adalah salah satu kisah yang paling sering nenekku dongengkan pada cucu-cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binatang lain yang membawa tahayul adalah cicca (cicak). Kejatuhan cicak dipercaya akan ada keluarga dekat akan meninggal atau mendapat musibah. Hal ini sama maknanya jika seseorang bermimpi tanggal salah satu giginya. Saya juga sering menjumpai orang mengetukkan tangannya di meja atau di lengan kursi jika saat bicara tiba-tiba terdengar suara cicca. Konon, bunyi cicca itu artinya mengiyakan pembicaraan yang didengarnya. Maka jika kita membicarakan harapan maka ketukan di meja bermakna sama dengan kata ‘amin’ di ujung doa. Tetapi jika pembicaraan justru sebaliknya, maka ketukan itu bermakna ‘semoga tidak terjadi demikian’. Masih banyak binatang lain yang membawa tahayul: tanru jonga (tanduk rusa) dan beberapa jenis manu-manu (burung), misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tahayul yang berhubungan dengan tanaman dan pertanian. Menurut kepercayaan orang Kampiri, asu jangeng (anjing gila) takut pada tanging-tanging (pohon jarak). Saya ingat waktu SD, di musim-musim tertentu saat banyak asu jangeng berkeliaran, kami disuruh membawa masing-masing minimal satu cabang tanging-tanging. Hal lain mengenai pertanian adalah penentuan hari baik untuk menabur benih padi atau menanam sesuatu. Hanya orang-orang tertentu yang punya kepandaian menentukan hari-hari baik itu. Selain untuk keperluan pertanian, penentuan hari baik juga dipakai dalam hal lain, misalnya: botting (pernikahan), sompe (merantau) atau mappatettong bola (mendirikan rumah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH saya ingat-ingat semua tahayul itu, dalam beberapa kasus mungkin ada pola tertentu yang bisa ditentukan untuk membantu menjelaskan tahayul-tahayul itu. Seperti yang umum kita pahami bahwa tahayul itu hampir selalu diwariskan melalui tutur-kata, melalui lisan. Budaya melisankan tahayul ini mungkin bisa dijelaskan dengan syarat-syarat, yang terdiri dari tanda atau sebab yang diperkirakan ada akibatnya. Contoh, jika terdengar suara burung hantu di atas atap rumah (tanda atau sebab), maka akan ada orang yang akan meninggal (akibat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh di atas itu hanya untuk struktur tahayul yang terdiri atas dua bagian (sebab dan akibat). Selain itu, ada juga yang mempunyai tiga bagian: sebab atau tanda, konversi (perubahan dari satu keadaan ke keadaan lain), dan akibat. Misalnya kepercayaan jika seorang seorang suami meninggal (sebab), istri yang ditinggalkannya bisa sakit keras atau gila (kibat), tapi jika ia berjalan mengitari mayatnya tiga kali ia akan terhindar dari kegilaan atau sakit (konversi). Waktu kakek saya meninggal nenekku dituntun oleh paman saya mengitari jenazah suami yang sangat dicintainya sebanyak tiga kali. Waktu saya tanya ibuku, ia bilang agar nenek tidak sakit keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada variasi lain yang bisa membantu orang untuk sedikit menjelaskan dan mengidentifikasi tahayul. Misalnya melalui asosiasi persamaan waktu. Contohnya jika ada ada ayam yang berkokok tengah malam, maka di waktu bersamaan di sekitar tempat itu ada sepasang orang yang sedang berzina. Seorang kawan pernah berseloroh tentang tahayul ini, katanya: jika di kota besar seperti Makassar ada banyak ayam jantan maka sungguh ribut kokok ayam itu di sekitar pondokan mahasiswa atau di Jalan Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya apa fungsi tahayul-tahayul itu sehingga dipelihara oleh orang sampai bertahun-tahun? Menurut Geertz, salah satu fungsi tahayul dan atau kepercayaan kepada mahluk-mahluk halus adalah untuk memberi sebuah perangkat penjelasan kepada para penganut sebuah kepercayaan. Juga untuk menerangkan pengalaman yang aneh-aneh serta sangat membingungkan. Penjelasan itu berupa gambaran simbolis hayalan. Pada wilayah hayalan, hal-hal paling menyimpang pun bisa disahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penjual sayur tiba-tiba menjadi kaya raya, oleh orang-orang dikatakan bahwa penjual sayur itu ikut tareka sala (tarekat salah), ia sembahyang telanjang menghadap ke pintu setiap malam Jumat dan uang datang padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi lain tahayul adalah sebagai penebal emosi keagamaan atau kepercayaan. Itu karena manusia yakin adanya mahluk-mahluk gaib yang menempati alam sekeliling dan yang berasal dari jiwa-jiwa orang mati. Bisa pula disebabkan karena manusia takut akan berbagai krisis terjadi pada hidupnya atau karena manusia yakin akan adanya gejala-gejala yang tidak mampu dikuasai oleh akalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak fungsi lainnya, yaitu; sebagai metode mendidik anak-anak dan remaja agar menjadi anak yang lebih hati-hati, sopan dam sebagainya; bisa juga menghibur orang yang kena musibah, contohnya jika ada orang disatroni maling, ia akan menghibur diri dengan mengatakan bahwa itu hanya ‘buang sial’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MESKIPUN Voltaire mengatakan ‘saya mati dengan mencintai Tuhanku, mencintai teman-temanku, tidak membeci musuhku, dan membenci tahayul’, sampai sekarang orang tetap tak bisa lepas-bebas dari tahayul. Seperti juga pernah disebutkan oleh Francis Bacon bahwa bahkan dalam proses menjauhi sebuah tahayul terdapat tahayul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya tuliskan ingatan dan hasil pembicaraan saya dengan kawan masa kecilku ini (yang tentu masih banyak terlupakan), saya merasa bahwa Kampiri, kampungku yang luasnya hanya beberapa kilometer itu memiliki banyak sekali tahayul. Saya bahkan merasa bahwa kampung kecil yang selalu saya rindukan itu adalah kampung tahayul. Sayang sekali, rumah pamanku, rumah keluarga terdekatku itu, juga baru saja di pindahkan ke lain desa.[]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8089823152268945787-4186973205035147081?l=kampiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kampiri.blogspot.com/feeds/4186973205035147081/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8089823152268945787&amp;postID=4186973205035147081' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8089823152268945787/posts/default/4186973205035147081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8089823152268945787/posts/default/4186973205035147081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kampiri.blogspot.com/2007/04/dari-parakang-sampai-utti-kaddu.html' title='Dari Parakang Sampai Utti Kaddu'/><author><name>m aan mansyur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855402410364863416</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v289/psychopoet/mansyur.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8089823152268945787.post-8106560746031292106</id><published>2007-03-20T12:53:00.000-07:00</published><updated>2007-04-07T12:43:30.258-07:00</updated><title type='text'>Kerbau dan Traktor</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;KERBAU yang di pagi hari bulan kemarau berasap punggungnya akhirnya pelan-pelan hilang. Dari hari ke hari kerbau berkurang seperti dimakan oleh padang-padang rumput yang pernah memberinya makanan. Sawah-sawah yang dulu dibajak dengan kerbau telah berubah menjadi arena pacuan kerbau peminum solar: traktor. Dulu kerbau yang kelelahan membajak sering berak di sawah dan menjadi pupuk penyubur tanaman padi. Kini traktor yang tak pernah lelah juga sering kencing dengan minyak berwarna hitam mengurangi kesuburan tanah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Memang tenaga kerbau kalah oleh tenaga pesaingnya, namun ada seni dalam bertani menggunakan tenaga mereka. Petani, anak petani yang gembala dan kerbau adalah sebuah keluarga dengan seluruh macam seninya. Tetapi traktor tak punya perasaan, tak bisa diajak bercanda sebagaimana anak gembala biasa berbicara dengan kerbaunya yang masing-masing memiliki namanya sendiri-sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kerbau yang membutuhkan rumput-rumput segar telah menghilang. Padang rumput merana seperti kehilangan sahabat sejati. Untuk menghiburnya, mereka dicangkul dan dikirim ke pekarangan rumah orang-orang kaya di kota. Lalu padang rumput berubah menjadi rumah tanpa penghuni. Anak-anak dengan daya ciptanya yang tinggi menyulap padang rumput yang tersisa menjadi lapangan bola. Bermain bola adalah hiburan dan pengisi waktu saat mereka yang semakin tidak tahu mau mengerjakan apa sepulang dari sawah.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Puang Japeng menjual puluhan kerbaunya dan membeli sebuah traktor yang tak bisa ia operasikan. Ia harus menyewa seorang lain untuk itu. Mulailah gaji-menggaji di Kampiri. Sebelumnya, orang-orang yang memiliki kerbau, meskipun hanya sepasang, bisa membantu tetangganya membajak sawah tanpa perlu digaji. Karena membajak sawah mulai memberlakukan sistem gaji maka menabur benih, menanam, menyiangi dan memanen padi pun kemudian memakai sistem sama. Kampung kecil yang dihuni oleh orang dari rumpun keluarga sama itu menjelma asing. Orang-orangnya yang bukan orang lain, sesama mereka saja, telah menjadi asing satu sama lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tak pernah lagi istri Puang Japeng membawa sebaskom besar kue-kue tradisonal seperti &lt;i style=""&gt;onde-onde&lt;/i&gt; atau &lt;i style=""&gt;doko-doko utti&lt;/i&gt; ke sawah untuk orang-orang yang membantu suaminya menanam padi. Selain karena menanam padi dilakukan dengan gaji, istri Puang Japeng juga sudah menjadi seorang haji yang dihormati. Sisa hasil penjualan kerbau Puang Japeng berubah menjadi Ongkos Naik Haji. Kepercayaan bahwa naik haji akan membuka rezeki keluarga serta menaikkan status seseorang memang kuat mengakar di Kampiri entah sejak kapan. Sepengetahuan saya, istri Puang Japeng itulah Haji pertama di Kampiri. Tahun-tahun berikutnya orang-orang berlomba ingin juga jadi seorang haji.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8089823152268945787-8106560746031292106?l=kampiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kampiri.blogspot.com/feeds/8106560746031292106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8089823152268945787&amp;postID=8106560746031292106' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8089823152268945787/posts/default/8106560746031292106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8089823152268945787/posts/default/8106560746031292106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kampiri.blogspot.com/2007/03/kerbau-dan-traktor.html' title='Kerbau dan Traktor'/><author><name>m aan mansyur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855402410364863416</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v289/psychopoet/mansyur.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8089823152268945787.post-8508692234354113916</id><published>2007-03-18T12:49:00.000-07:00</published><updated>2007-04-05T12:52:06.856-07:00</updated><title type='text'>pagi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;ENTAH mengapa yang pertama melintas di kepalaku adalah sebuah pagi yang tak bisa kuingat tanggal-hari-bulannya. Waktu itu aku masih duduk di kelas empat Sekolah Dasar. Tahun 1989, setahun setelah kepergian ayahku. Mansyur nama ayahku—nama itu melekat pula di namaku sebagai sebuah keharusan. Waktu itu, aku masih duduk bermalas-malasan di beranda menutup hampir seluruh tubuh kurusku dari dingin cuaca kemarau dengan sarung bercorak kotak-kotak. Seharusnya aku sudah berada di Sumur Saheng mandi mengguyur tubuh sebab perjalanan ke sekolah membutuhkan minimal tiga puluh menit. Tetapi aku malas beranjak dari kursi kayu yang salah satu kakinya berdiri beberapa senti saja dari sebuah lubang di lantai papan beranda. Jika aku banyak gerak kaki kursi itu akan berjalan ke lubang dan aku bisa jatuh. Tetapi bahkan bergerak pun aku sungguh malas. Dingin cuaca pagi sungguh membekukan aku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di depan rumah beriringan kerbau yang tubuhnya berlumur lumpur beraroma tak sedap. Di atas punggung-punggung kerbau itu menyeruak asap tipis-tipis seolah tubuh-tubuh kerbau itu baru saja keluar dari kuali raksasa. Aku memang tak pernah tahu mengapa tubuh-tubuh kerbau berlumur lumpur, tai dan air seni itu berasap di pagi hari bulan kemarau saat melintas di depan rumahku. Hingga kini aku tak tahu jawabannya. Kira-kira seperti kasus orang-orang di negara jauh yang berasap mulutnya saat bicara di musim salju. Seperti es lilin yang berasap karena terlalu dingin. Kali terakhir aku mengunjungi Kampiri tak ada lagi kerbau dan anak-anak kecil gembalanya yang melintas di depan rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Puluhan meter di belakang iringan &lt;i style=""&gt;tedong&lt;/i&gt; itu, beberapa anak seusiaku dengan sarung dikalungkan di leher berjalan membawa gulungan tali di satu lengannya dan sebilah kayu kecil di tangan lain. Harise, Iling, Tolleng, Hae dan Are adalah bocah-bocah kecil yang harus menggiring kerbaunya mandi ke sungai lalu mengikatnya di padang rumput sebelum ke sekolah saban hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mereka itu adalah teman-teman kelasku yang selalu telat tiba di sekolah. Namanya yang tercetak di karton seukuran kartu remi selalu berada di kantong bertuliskan angka berwarna merah. Di samping pintu kelas memang ada sebuah kantong-kantong disatukan dengan jahitan seadanya oleh guru wali kelasku, Bu Sukayah. Jumlah kantong-kantong itu sesuai dengan jumlah anak di kelasku. Di masing-masing kantong itu tertulis dengan spidol masing-masing angka. Angka 1 sampai 20 ditulis dengan spidol berwarna hitam, sementara sisanya ditulis dengan spidol berwarna merah. Di sampingnya ada sebuah kotak kayu berisi kartu-kartu bertulisakan nama kami. Murid paling cepat tiba di kelas akan mengambil namanya dan memasukkannya di kotak bertuliskan angka 1 di sudut kiri paling atas. Murid selanjutnya akan meletakkan namanya di kantung kedua dan seterusnya dan seterusnya hingga semua anak tiba. Harise, Iling, Tolleng, Hae dan Are jarang sekali bisa menyelipkan namanya di kantong-kantong bertuliskan angka hitam. Jika kartu nama masuk ke kantong bertulis angka merah berarti oleh guru dicap malas, masuk kategori terlambat dan pemalas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sekarang jika mengingat hal-hal itu saya merasa cara itu tak adil. Tentulah tak bisa dibandingkan antara aku yang tak punya aktifitas di pagi hari dengan Harise yang harus mengurus kerbaunya. Memang dulu aku sangat mengagumi metode Bu Sukayah mendorong kami agar rajin dan lekas tiba di sekolah. Anak yang bisa menempatkan namanya di kantong nomor satu sebanyak 15 kali dalam sebulan akan mendapatkan hadiah: buku tulis dan pensil masing-masing satu. Kampiri berjarak tiga kilometer dari Maradda, tempat sekolah berada, membuatku susah mengalahkan anak-anak yang tinggal di dekat sekolah. Beberapa anak bahkan kemudian diketahui berlaku sungguh curang, Ining anak yang rumahnya berdiri di sudut lapangan di depan sekolah menyimpan kartu namanya sesaat setelah pintu kelas dibuka oleh Puang Asse sebelum ia mandi. Setelah meletakkan namanya di kantong nomor 1, ia kembali lagi ke rumahnya mandi dan melakukan persiapan lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sementara Harise dan gembala lain di pagi hari itu masih memandikan kerbaunya yang kadang berubah liar di musim kawin. Sementara aku masih duduk mencangkung di beranda berusaha kerasa melawan dingin. Aku heran mengapa aku tak tahan pada cuaca dingin. Tulang-tulangku selalu bagaikan batang-batang padi muda yang rapuh. Hal itu menjadi pembenaran yang diterima baik oleh semua orang di rumahku, nenekku utamanya. Sejak kecil aku memang sakit-sakitan dan tak bisa melakukan banyak hal. Berbeda dengan Udin, adikku, yang sejak kecil, menurut ibuku, tubuhnya keras dan mengkilat bagai batu kali dilumuri minyak kelapa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pagi itu, aku dengan tubuh ringkih ditutupi sarung tetap malas beranjak dari kursi beranda sambil mengamati gembala-gembala melintas di depan rumah dengan puluhan kerbau beriring di depannya. Ibu tak ada di rumah waktu itu. Pagiku selalu diurus oleh nenekku yang kepalanya tak memiliki sehelai pun rambut berwarna hitam. Narti masih tidur, ia boleh bangun jam berara pun. Ia masih kecil dan tak perlu ke sekolah. Udin sudah berada di Sumur Saheng. Aku memang pemalas tetapi aku bisa berkelit dengan mengatakan kepada nenekku bahwa tulang-tulangku serasa lebur dimakan dingin. Nenekku, aku tahu, sudah berada di dapur menyiapkan air hangat untukku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jika saja ayahku masih ada waktu itu, mungkin ia masih berada di tempat tidur menutupi tubuhnya yang pendek dengan selapis sarung ditambah selapis selimut. Ayahku pernah ada di tengah-tengah kami namun pergi saat aku berusia delapan tahun. Kini aku dan semua keluargaku tak ada tahu di mana kini tubuhnya tertidur saat lelah. Mungkin ia sudah punya rumah lagi di sana dan tinggal bersama keluarga barunya. Ia seorang pemalas dan pemarah. Aku dan adikku tak boleh ribut di pagi hari saat ia masih mendengkur. Ia tak suka berteriak atau membentak tetapi kami semua takut pada matanya yang senang membelalak. Ah, mata itulah hal paling menakutkan bagiku hingga kini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sementara ibuku, pagi buta sebelum salah satu di antara kami terbangun sudah berjalan dengan sebuah bakul besar di kepalanya berisi berbagai macam bumbu dapur. Ia berjalan membelah hutan dan sungai menuju pasar. Hari Senin dan Kamis ada hari pasar di Matajang. Selasa dan Sabtu di Maradda. Rabu, Jumat dan Minggu di Palattae. Pagi hingga siang hari ibuku tak ada di rumah kecuali tentu saja jika ia sakit atau ada acara keluarga yang harus ia hadiri. Setelah ayahku pergi dan nenek sudah tua, ibuku harus melakoni pekerjaan sebagai penjual bumbu dapur dari pasar satu ke pasar lain untuk menyambung hidup keluarga dan mencari biaya sekolah anaknya. Pekerjaan itu turun dari nenekku, perempuan murah senyum yang rambutnya berwarna putih bagai rumpunan nilon yang halus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pagi memang salah satu waktu paling aku senangi sekaligus benci. Aku senang karena di depan rumah selalu melintas ratusan kerbau yang digiring gembala-gembala kecil yang berbicara satu sama lain seolah orang dewasa. Di pagi hari pula aku senang menyaksikan lelaki-lelaki tua tetanggaku sibuk mengasah barang-barang tajam untuk mereka gunakan di kebun atau di sawahnya—kecuali ayahku yang jarang terbangun sebelum aku berangkat ke sekolah. Tetapi aku membencinya sebab aku tak bisa melakukan apa-apa kecuali menjadi penonton dari seluruh aktifitas pagi yang menggoda dan menggairahkan itu. Selama bertahun-tahun aku hanya jadi penonton. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di saat yang sama, Diana dan Tini sepupuku yang beranjak gadis yang rumahnya berada di sebelah kiri rumahku sibuk pula dengan rutinitas paginya berkelahi memperebutkan jilbab yang harus mereka kenakan ke sekolah. Keduanya sekolah di Madrasah Tsanawiyah. Sekolahnya tak jauh dari sekolahku. Mereka nampaknya mulai memahami bahwa dirinya sebentar lagi akan jadi gadis. Mereka masing-masing mungkin sudah mulai menyukai seorang anak lelaki di sekolahnya. Tini kelas tiga dan adiknya, Diana, kelas satu. Aku sering sekali mendengar Diana menangis tak bisa menggunakan jilbab yang lebih putih dari kakaknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sesudah mandi air hangat, dan Udin duduk menungguku di tangga, aku bergegas menggunakan seragam dibantu tanga nenekku yang urat-uratnya nampak bersaling-silang di sana-sini. Aku kadang malu menjadi anak sulung yang lebih manja dan tak mandiri. Tetapi nenekku terlalu menghawatirkan aku. Aku tahu sesuatu di dalam tubuhku tidak sempurna di letakkan Tuhan. Jika mendengar ibu atau nenekku berkisah tentang kelahiranku yang terlambat dan kelahiran Udin yang sangat cepat, aku mengutuk Tuhan diam-diam sebab memasang jantung di dadaku dengan sebuah kesalahan di sana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berjalan ke sekolah adalah satu hal lain yang aku senangi. Kami harus melewati beberapa pematang sawah dan pendakian juga penurunan dan menyeberangi sebuah sungai sebelum akhirnya tiba di sekolah. Mungkin bagi anak lainnya hal itu sangat membosankan, tetapi bagiku itu adalah petualangan luar biasa. Sebab selain ke sekolah tak ada waktu lain yang mengijinkanku ke luar dari rumah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sungai Garopo yang menjadi batas Kampiri dan Maradda adalah sebuah wilayah lain dari masa kecilku yang selalu memanggil-manggil untuk ditandangi lagi. Sudah belasan tahun memang aku tak pernah lagi melihatnya kecuali melalui selembar foto yang pernah dikirim ibuku atas permintaanku. Di foto itu ada banyak perubahan: dulu pohon-pohonnya rindang menaungi sungai, dulu airnya deras dan bening juga batu-batu kali berserakan seperti harta yang dihambur-hamburkan. Semua pemandangan itu telah pupus berganti sungai di sebuah negeri lain yang bobrok. Tak pernah aku bayangkan sungai Garopo akan jadi sedemikian mengerikannya. Tetapi aku tetap mencintainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku berjalan ke sekolah tak selaju anak lain. Aku mudah ngos-ngosan. Itulah mengapa aku dan Udin harus berangkat lebih awal dibandingkan teman-temanku yang lain.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Udin adalah adik yang sabar dan setia menemani kelemahanku. Ia tak pernah mengeluh karena aku menyusahkannya. Aku tahu, ia bisa berjalan lebih cepat dan bergabung bersama anak-anak lain tertawa dan membicarakan banyak hal. Tetapi ia menemaniku saja seperti pesan nenekku padanya untuk menjaga kakaknya yang berjalan bagai kakek-kakek berusia ratusan tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jika aku lelah berjalan, utamanya saat mendaki, di pertengahan jalan aku berhenti dan menoleh ke belakang melihat jalan berkelok dan melata bagai ular. Jalan itu selalu aku bayangkan sebagai ular panjang melata menuju Kampiri mencari seseorang untuk digigit atau dibawa pergi. Jalan memang salah satu hal yang pernah aku benci. Jalanan di depan rumah kamilah yang membawa ayahku pergi dan lupa mengembalikannya padaku dan pada keluargaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jalan-jalan bagai ular itu diapit petak-petak sawah ditumbuhi padi subur atau alang-alang di bentang padang. Enam tahun aku melewati jalan itu ke sekolah setiap hari kecuali hari Minggu dan liburan. Enam tahun pula aku tak pernah merasakan kebosanan padanya. Di jalan-jalan itulah aku mengetahui bagaimana rasanya orang sakit berbaring di rumah sakit seperti yang dikisahkan kakekku. Aku tahu sebab dadaku selalu terasa sakit dan menyiksa di jalan-jalan itu saat aku kelelahan. Betul-betul sakit. Di jalan itu pulalah dari hari ke hari rasa cintaku pada Udin tumbuh bagai pokok-pokok pohon. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku memang sudah jarang bertemu Udin sejak ia merantau ke Pulau Kalimatan menjadi buruh di sebuah pertambangan minyak dan membawa serta Narti dan ibuku. Tetapi ia tetap mencintaiku. Ia tak pernah lupa menelponku di saat senggang dan mengirim sebagian gajinya untukku membeli buku. Aku memilih tinggal di Makassar sebagai seorang pemuda tanpa kerjaan yang jelas. Sementara Udin bekerja menghidupi ibuku, adikku dan juga aku kadang-kadang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8089823152268945787-8508692234354113916?l=kampiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kampiri.blogspot.com/feeds/8508692234354113916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8089823152268945787&amp;postID=8508692234354113916' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8089823152268945787/posts/default/8508692234354113916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8089823152268945787/posts/default/8508692234354113916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kampiri.blogspot.com/2007/03/pagi.html' title='pagi'/><author><name>m aan mansyur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855402410364863416</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v289/psychopoet/mansyur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8089823152268945787.post-3529873895775855532</id><published>2007-03-10T12:38:00.000-08:00</published><updated>2007-04-05T12:43:32.773-07:00</updated><title type='text'>prolog</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;SANGGUPKAH engkau melupakan adegan ini: tubuhmu dan tubuh kekasihmu pelan-pelan menjadi bayangan samar oleh matahari senja setengah ditelan batas langit di Pantai Losari? Tubuhmu yang bersatu dengan tubuh kekasihmu menjadi siluet di selembar foto seukuran kartu pos? Tubuhmu memeluk tubuh kekasihmu yang dikekalkan waktu bersama pantai yang memiliki senja terindah di dunia itu? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku sanggup. Aku sanggup meskipun aku memiliki kenangan seperti itu bersama seorang perempuan yang terus saja kusebut kekasih bahkan setelah ia melupakan tubuhku beserta seluruh yang ada di luar dan di dalamnya. Aku sanggup meskipun tubuh perempuan itu kini telah menjadi milik lelaki lain yang setengah mati membuatku sakit hati hingga kini. Aku sanggup melupakan semua keindahan Pantai Losari, keindahan tubuh kekasihku yang melebihi emasnya senja manapun juga seluruh keindahan yang diberikan kehidupan. Aku sanggup melupakan semuanya ketika mengenang kesederhanaan Kampiri, dusun kecil tempatku dilahirkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Seperempat abad lalu, saat pertama kali mengenal bahasa airmata, bahasa yang aku hafal seluruh kosa katanya kini, aku berada di Kampiri. Di sebuah rumah berdinding &lt;i style=""&gt;tedde&lt;/i&gt;, dinding dari batang-batang bambu yang dicincang-cincang lalu disusun rapih, 14 Januari 1982, di sebuah Kamis yang cerah aku lahir dari rahim yang telah mengeramiku selama 12 bulan lebih. Ya, setahun lebih aku di sana melengkung, bukan 9 bulan sekian hari seperti kebanyakan orang. Kelahiran itu menimbulkan trauma kecil bagi Safinah, ibuku, perempuan yang dalam kesederhanaan dan kekokohannya hidup telah menjadi perempuan paling cantik yang pernah aku kenal. Jika masih harus mengandung lagi manusia lain, adik-adikku, ia tak mau hamil lagi selama saat mengandung tubuhku. Tetapi aku, bayi sakit-sakitan yang terlalu lama menyedot cairan-cairan tubuh ibunya, membutuhkan teman bermain dan kemudian lahirlah Udin, adikku yang wajahnya selalu mengenangkan siapa saja yang pernah mengenal ayahku. Pula Narti, perempuan yang kini sudah menikah mendahului dua kakaknya, adik bungsuku. Atau mungkin Bapak yang tak pernah merasa jantan jika hanya memiliki seorang anak, seorang anak yang sakit-sakitan pula. Ia ingin jadi pejantan yang disegani, dengan anak lebih banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;SETELAH 25&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt; tahun berlalu sejak hari Kamis yang cerah itu, kini aku tak lagi di sana, di Kampiri. Telah aku tinggalkan dusun sederhana yang menggemaskan itu. Seperti pendosa yang dipenuhi rasa bersalah, aku memutuskan untuk membangun kembali seluruh pepuing ingatan tentang dusun itu. Aku ingin tubuh Kampiri kembali utuh dan dalam keutuhannya yang sulit diwujudkan, aku ingin datang bermain-main sebagai anak kecil lagi sebagaimana aku puluhan tahun lalu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di hari ulang tahunku yang keduapuluhlima ini, aku ingin menghadiahi masa remajaku yang tua dan perih sebuah kado sederhana: Biografi Kampiri. Tentulah biografi yang aku tuliskan ini tak akan sepenuhnya memuaskan semua orang yang pernah mengenal Kampiri. Tetapi aku, dengan ingatan yang terbatas, akan sangat berbahagia jika mampu menyusun biografi Kampiri bagaimanapun sederhana hasilnya. Sebab sesungguhnya biografi yang sedang aku tuliskan ini memang aku maksudkan bukan untuk siapa-siapa kecuali diriku sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Telah aku persiapkan kedatangan hari ini dengan kematangan yang paling mampu aku penuhi. Aku tak mau ada pesan atau ucapan selamat yang tiba padaku hari ini. Aku tak ingin ucapan selamat yang lebih banyak tidak tulus menggangguku menulis biografi Kampiri. Maka di kamar tarif paling murah sebuah penginapan yang tak mau aku sebutkan namanya ini aku bersembunyi dengan ponsel yang telah dimatikan. Aku ingin menuliskan biografi Kampiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kesederhanaan Kampiri, itulah intinya. Aku mencintainya. Aku merindukannya. Sepenuh-penuh perasaan. Dusun kecil yang dalam sejarah hidupnya belum mampu melahirkan ‘seseorang’ itu hari ini memenuhi tubuhku. Engkau, siapa pun engkau, tak akan bisa menemukan nama Kampiri di lembaran koran atau majalah atau buku atau radio atau televisi atau apa pun. Tak akan ada peneliti yang tertarik mempelajari sesuatu di sana. Sebab Kampiri terlalu sederhana. Itulah intinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tetapi aku mencintainya dengan perasaan yang mampu meruntuhkan langit biru yang terlalu terang di luar jendela kamar penginapan ini. Aku mencintai Kampiri, apa pun yang akan engkau katakan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Itulah mengapa aku ingin menulisnya sebab aku ingin membacanya. Sebab engkau semua tak mau menuliskannya di koran, sebab engkau semua tak mau mengambil gambarnya dan memasangnya di televisi, sebab engkau semua tak mau mencantumkan namanya di sehelai buku. Sementara aku ingin membacanya sebab aku mencintainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku memang tak tahu harus memulai dari mana menuliskannya sebab seluruh kenangan datang bagai segulung benang yang tak bisa ditemukan pangkal dan ujungnya. Maka barangkali biografi ini akan bermula dari kalimat yang tak seharusnya diletakkan di awal. Tetapi kalimat itu, disusun dengan kata-kata apapun, aku yakin akan menyeret kalimat lain tentang Kampiri sampai dusun itu hadir kembali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8089823152268945787-3529873895775855532?l=kampiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kampiri.blogspot.com/feeds/3529873895775855532/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8089823152268945787&amp;postID=3529873895775855532' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8089823152268945787/posts/default/3529873895775855532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8089823152268945787/posts/default/3529873895775855532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kampiri.blogspot.com/2007/04/prolog.html' title='prolog'/><author><name>m aan mansyur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855402410364863416</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v289/psychopoet/mansyur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
